Andi Sukri Sappewali Tinggalkan Ahmad Gani

Sumber Koran Seputar Indonesia Thursday, 22 October 2009

BULUKUMBA (SI) – Andi Sukri Sappewali meninggalkan Andi Ahmad Gani yang sebelumnya disebut- sebut sebagai pendamping (bakal calon wakil bupati) untuk maju berpasangan di Pilkada Bulukumba 2010.Bakal calon bupati incumbentitu justru memilih Rasyid Saherong, salah satu pejabat di Badan Pertanahan Nasional (BPN) Makassar.

Tidak dipilihnya Ahmad Gani sebagai pendamping, membuat tim sukses dosen UMI Makassar itu bekerja keras menjadikannya bukan lagi cawabup, tapi cabup.”Kami sebagai tim sukses optimistis dapat meraih simpati dan dukungan masyarakat menjadikan Ahmad Gani sebagai bupati di Butta Panrita Lopi ini,” kata tim media Ahmad Gani,Ilham Sikki, saat ditemui wartawan di Kafe Agri Bulukumba,kemarin. Menurut Ketua Gerakan Pemuda Balla Saraja (GPB) Bulukumba ini, tim telah membangun komunikasi dengan beberapa parpol dan melakukan sosialisasi di beberapa wilayah Bulu-kumba.

Dia menegaskan, dari hasil sosialisasi, Ahmad Gani mendapat dukungan dari alumni UMI Makassar serta beberapa organisasi pemuda dan keagamaan di Bulukumba. Para tokoh tersebut memberikan dukungan penuh kepada Ahmad Gani maju sebagai cabup. ”Dalam waktu dekat Ahmad Gani akan memilih figur yang akan mendampinginya pada Pilkada Juni 20- 10 mendatang.Tim sukses mengisyaratkan, figur yang akan mendampingi Ahmad Gani dari kalangan muda,”tandasnya.

Sebelumnya,Ahmad Gani telah menyampaikan visi dan misi di Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golongan Karya (Golkar) Bulukumba. Tim 9 Partai Golkar memberi respons positif terhadap Ahmad Gani.Figur Ahmad Gani dinilai memiliki kemampuan membangun Kabupaten Bulukumba. ”Mampu bekerja sama dengan pemerintah pusat sehingga APBN lebih banyak mengalir ke Bulukumba. APBD tidak akan cukup membangun Bulukumba,” ungkap Ahmad Gani dalam pemaparan visi dan misi,pekan lalu.

Sementara itu, keputusan Partai Golkar membuka pendaftaran bakal calon bupati dan wakil bupati dan melakukan survei sebelum menentukan usungan, memiliki daya tarik tersendiri bagi tokoh nonkader. Di Bulukumba, hingga pendaftaran ditutup pekan lalu, tercatat 11 bakal calon bupati yang mengambil formulir pendaftaran. Sebagian besar berasal dari luar Partai Golkar,baik kalangan birokrat maupun politisi partai lain. Di antaranya bakal calon bupati incumbentAndi Sukri Sappewali, Wakil Bupati Andi Padasi, Kabag Pemerintahan Pemkot Makassar Gani Sirman, Isradi Zainal, Andi Ridwan, Ahmad Gani, Darwis, Sarifuddin Hamjar, Mahfud Edi, Edy Manaf,dan Juharta.

“ Namun, dari 11 nama ini, ada tiga di antaranya tidak mengembalikan formulir, yakni Edy Manaf, Mahfud, dan Juharta,” ujar juru bicara Tim Pilkada Golkar Bulukumba Risman Pasigai kemarin. (baharuddin/arif saleh)

Read More......

SENI MENDENGAR


"Teman... Mendengarlah dengan sabar, maka kita akan menemukan banyak hikmah dari
yang disampaikan orang lain kepada kita"

Para Sahabatku....

Hari ini saya ingin menyuguhkan sebuah artikel atau catatan yg berhubungan dengan
'seni mendengar'. Saya yakin Para Sahabat akan menyukainya selamat membaca! Semoga bermanfaat...

Mengawali Dengan kalimat Sempatkan Untuk Mendengar Banyak orang bisa 'berkata', namun sedikit yang mau 'mendengar'.

Padahal jika kita mau kembali ke hukum alam, seharusnya kita harus lebih banyak mendengar daripada bicara.Bukankah Tuhan memberi kita dua telinga dan hanya satu mulut? :-)

Begitupun jika kita saksikan pada bayi yang baru lahir. Indra pendengaran lebih dulu berfungsi daripada yang lainnya. Lalu, mengapa mendengar lebih susah daripada berbicara..Meski secara kasat mata mendengar adalah hal yang gampang, namun nyatanya banyak orang yang lebih suka didengarkan daripada mendengarkan.Mendengarkan merupakan bagian esensi yang menentukan komunikasi efektif.

Tanpa kemampuan mendengar yang bagus, biasanya akan muncul banyak masalah. Yang sering terjadi, kita merasa bahwa kitalah yang paling benar. Kita tidak tertarik untuk mendengarkan opini yang berbeda dan hanya tergantung pada cara kita.

Selalu merasa benar, paling kompeten,dan tidak pernah melakukan kesalahan.Duh... malaikat kali! :-)
Jika kita selalu merasa bahwa diri kita benar, dan cara kitalah yang paling tepat, itu berarti kita tidak mendengarkan.

Ide dan opini kita sangat sukar untuk diubah jika fakta tidak mendukung keyakinan kita. Bahkan kalau ada fakta pun kita mungkin hanya akan sekedar meliriknya saja.

Mungkin saat ini kita nyaman dengan cara kita, tapi untuk jangka waktu yg panjang, orang-orang akan menolak dan membenci kita.

Jika kita mau mulai mendengarkan orang lain, maka suatu saat kita akan menyadari kesalahan kita. Jawaban untuk mengatasi sifat ini adalah mengasah skill mendengar aktif.Mendengar tidak selalu dengan tutup mulut, tapi juga melibatkan partisipasi aktif kita. Mendengar yang baik bukan
berharap datangnya giliran berbicara.

Mendengar adalah komitmen untuk memahami pembicaraan dan perasaan lawan bicara kita. Ini juga sebagai bentuk penghargaan bahwa apa yang orang lain bicarakan adalah bermanfaat untuk kita.Pada saat yang sama kita juga bisa mengambil manfaat yang maksimal dari pembicaraan tersebut.

Seni mendengar dapat membangun sebuah relationship. Jika kita melakukannya dengan baik, orang-orang akan tertarik dengan kita dan interaksi kita akan semakin harmonis.

Berikut teknik mudah yang dapat dipraktekkan oleh Para Sahabat dengan sangat wajar untuk menjadi seorang pendengar yang baik :

1. Peliharalah kontak mata dengan baik.
Ini menunjukkan kepada lawan bicara
tentang keterbukaan dan kesungguhan
kita
2. Condongkan tubuh ke depan.
Ini menunjukkan ketertarikan kita
pada topik pembicaraan. Cara ini
juga akan mengingatkan kita untuk
memiliki sudat pandang yang lain,
yaitu tidak hanya fokus pada diri
kita.
3. Buat pertanyaan ketika ada hal yang
butuh klarifikasi atau ada informasi
baru yang perlu kita selidiki dari
lawan bicara kita.
4. Buat selingan pembicaraan yang
menarik. Hal ini bisa membuat
percakapan lebih hidup dan tidak
monoton.
5. Cuplik atau ulang beberapa kata
yang diucapkan oleh lawan bicara kita.
Ini menunjukkan bahwa kita memang
mendengarkan dengan baik hingga hapal
beberapa cuplikan kata.
6. Buatlah komitmen untuk memahami
apa yang ia katakan, meskipun kita tidak
suka atau marah. Dari sini kita akan
mengetahui nilai-nilai yang diterapkan
lawan bicara kita, yang mungkin berbeda
dengan nilai yang kita terapkan.

Dengan berusaha untuk memahami, bisa jadi kita akan menemukan sudut pandang,wawasan, persepsi atau kesadaran baru,yang tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya. Seorang pendengar yang baik sebenarnya hampir sama menariknya dengan pembicara yang baik. Jika kita selalu pada pola yang benar untuk jangka waktu tertentu, maka suatu saat kita akan merasakan manfaatnya.

Prosesnya mungkin akan terasa lama dan menjemukan, tapi lama-kelamaan akan terasa berharganya upaya yang telah kita lakukan. Kita akan merasa lebih baik atas diri kita, hubungan kita, teman-teman kita, anak-anak kita, maupun pekerjaan. Kesimpulan: Jadilah pendengar yang
baik, karena sifat ini bisa menjadi kunci untuk mengembangkan pikiran yang positif, dan merupakan salah satu tangga Para sahabat untuk mencapai kesuksesan! :-)

Dalam Catatan MRP - AA

Read More......

Gusti Allah, Engkau Selalu Melihatku


Catatan BA :Alkisah, pada suatu pagi Kyai Mursyid memanggil tiga orang santri kesayangannya: Rumi, Mawla dan Abyan. Ketiganya dipanggil untuk mengikuti ujian kenaikan kelas tingkat akhir di pesantren itu. "Barangsiapa yang lulus ujian ini akan saya izinkan untuk mengajar di pesantren," kata Kyai Mursyid. Mendengar penjelasan sang kyai, ketiga santri itu senang bukan kepalang. Tapi seketika perasaan cemas menyeriap lantaran ada semacam kekuatiran tak lulus dari ujian sang kyai.

Lalu Kyai Mursyid mengajak ketiga santrinya ke belakang rumahnya. Di sana beliau memberikan kepada ketiga santrinya masing-masing seekor burung merpati dan sebilah pisau. "Mohon maaf kyai, apa yang harus kami lakukan dengan burung dan pisau ini," tanya Rumi kebingungan. Begini, kata Kyai Mursyid, pergilah kalian membawa burung dan pisau itu. Berpencarlah dan carilah tempat yang paling tersembunyi, sedemikian tersembunyinya sampai-sampai tak ada yang bisa melihat apa yang kalian lakukan disana. Kemudian sembelihlah burung itu dan cepat kembali kesini. "Siapa yang paling cepat datang menghadapku setelah melaksanakan perintahku, maka dialah yang kunyatakan lulus ujian ini," kata Kyai Mursyid. Setelah diizinkan untuk pergi, maka ketiganyapun berpencar: Rumi ke selatan, Mawla ke timur, dan Abyan ke utara.

Matahari telah tinggi ketika Kyai Mursyid baru saja turun dari sajadahnya. Di tengoknya serambi rumahnya yang sederhana, di mana disitu hanya terdapat sebuah balai beralaskan tikar pandan. Tapi tak ada seorangpun dari ketiga santrinya itu yang nampak. "Kemana mereka? Kenapa belum ada yang kembali pulang" tanya kyai dalam hati.

Tak lama berselang, terdengar suara salam di pintu depan rumah Kyai Mursyid. "Kalau tidak salah, itu suara Mawla," gumam kyai di dalam hati. Sambil membuka pintu rumahnya sang kyai menjawab salam itu. Ternyata betul, Mawla yang datang. Wajahnya sumringah. Tapi tangannya berlumuran darah. "Apa yang telah engkau lakukan Mawla?" tanya sang kyai. "Saya sudah melaksanakan tugas yang diberikan kyai," jawabnya. "Ceritakan kepadaku bagaimana engkau melaksanakannya!" tukas sang kyai.

Mawla bercerita: setelah berpencar dari Rumi dan Abyan, dirinya pergi ke utara sampai ke bibir pantai yang sepi. Disana dirinya menemukan sebuah gua yang letaknya sangat tersembunyi. Pintu gua itu menghadap ke laut sehingga sangat sedikit orang yang tahu keberadaannya. Sesampainya di dalam gua, dirinya memastikan lagi bahwa disana tidak ada orang lain selain dirinya. Setelah yakin seyakin-yakinnya bahwa dirinya telah tersembunyi dari pandangan mata manusia, maka Mawla menyembelih burung merpati itu dan bangkainya serta pisaunya ditinggal di dalam gua. "Darah di tanganku ini adalah bukti bahwa saya sudah melaksanakan perintah kyai," tutur Mawla. Mendengar penuturan Mawla, sang kyai berujar sambil menghela nafas panjang, "Mawla, engkau merasa sudah menjalankan perintahku. Padahal sesungguhnya engkau tidak menjalankannya dengan benar." Singkat kata, Mawla tidak lulus ujian.

Langit hampir gelap ketika Abyan dengan wajah yang sangat letih tiba di serambi rumah Kyai Mursyid. Sambil menyerahkan burung merpati yang sudah disembelih dan pisau yang berlumuran darah, Abyan dengan penuh takzim melaporkan bahwa dirinya sudah melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh sang kyai. Katanya, dirinya pergi ke utara menembus hutan rimba yang sangat padat pepohonannya. Disana dia menemukan sebuah gubuk kayu yang biasa dipakai tempat istirahat oleh para pencari kayu bakar dan penyadap pohon aren. Gubuk itu sudah lama tidak dipakai, persisnya sejak seorang pencari kayu ditemukan mati disitu dengan tubuh tercabik-cabik lantaran diterkam macan. "Di dalam gubuk itulah saya sembelih merpati ini," kata Abyan. Kyai Mursyid lagi-lagi menghela nafas panjang. Beliau tidak banyak berkomentar kecuali memberitahu Abyan bahwa dirinya tidak lulus ujian ini. Ada semacam kekecewaan yang sulit disembunyikan dari wajah Kyai Mursyid yang putih bersih lantaran sudah dua orang muridnya yang gagal melalui ujian ini.

Bagaimana halnya dengan santri yang satunya lagi, Rumi?

Pengurus masjid di pesantren baru saja mematikan lampu bagian dalam masjid. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tapi belum ada tanda-tanda Rumi akan pulang malam itu. Kyai Mursyid mulai was-was memikirkan keadaan muridnya yang satu itu. Sayup-sayup terdengar suara santri yang mengaji di biliknya. Sebagiannya lagi, terutama santri-santri yang sudah terbilang remaja, masih mengikuti taklim di beberapa pondokan yang berada di lingkungan dalam pesantren.

Jam dinding rumah Kyai Mursyid menunjukkan pukul 11 malam ketika pintu depan terdengar ada yang mengetuk. Kyai Mursyid yang masih terjaga membukakan pintu. "Alhamdulillah, akhirnya engkau datang juga," ucap kyai penuh syukur melihat orang yang berdiri di depan pintunya. "Assalamu 'alaikum kyai," kata Rumi sambil mencium tangan kyai yang sangat dihormatinya itu. Setelah menjawab salam, Kyai Mursyid mempersilakan Rumi yang memegang merpati yang masih hidup dan sebilah pisau duduk di balai beralas tikar pandan yang biasanya dipakai oleh pak kyai untuk bersantai.

"Kenapa engkau baru pulang, sementara dua temanmu sudah kembali sejak tadi siang, Dan, apa yang terjadi sehingga burung itu belum kau sembelih?" tanya Kyai. "Maafkan saya, kyai. Demi Allah, saya sudah berikhtiar untuk melaksanakan perintah kyai," jawab Rumi. Tapi, tambahnya, sejauh-jauhnya saya berjalan ke selatan, hingga masuk ke hutan larangan dan naik ke gunung di ujung desa sana, saya tetap tidak menemukan satu tempat pun yang membuat saya merasa tersembunyi di mana disitu saya bisa menyembelih burung ini. Sebetulnya banyak tempat di gunung yang tersembunyi dari pandangan mata manusia, tapi saya merasa tetap tidak bisa bersembunyi dari penglihatan Allah. "Kemana saja saya bersembunyi, saya merasa yakin Allah melihat saya dan tahu apapun yang saya kerjakan. Itulah sebabnya saya tidak bisa menyembelih burung ini," tutur Rumi. Mendengar penuturan Rumi, Kyai Mursyid tersenyum bangga. Dan, dengan perasaan penuh suka-cita Kyai Mursyid memutuskan bahwa Rumi lulus dari ujiannya dan sejak itu berhak untuk mengajar di pesantrennya.

Sahabat-sahabatku, tulisan ini seyogyanya menjadi cermin bagi kita, pelajaran bagi kita, agar dalam kehidupan sehari-hari senantiasa menyadari bahwa seluruh tindakan dan gerakan hati kita tidak pernah luput dari penglihatan Allah SWT, Dzat yang Maha Luas dan Maha Mengetahui. Innallaha waasi'un alima....

Semoga bermanfaat.

Read More......

Aku, Manusia Kualitas Nol Koma...


Jakarta, 19 Sept 2009, pukul 15.45 wib --- Ada perasaan masygul ketika menyadari Lebaran sudah di depan mata. Hhhh... Hari Kemenangan itu akan datang hanya dalam hitungan beberapa jam ke depan.

Sejujurnya saya akui, situasi batiniah saya saat ini sangat tidak tenang. Sebabnya tidak lain karena saya merasa neraca kebaikan saya selama ramadhan sangat buruk. Jika menggunakan skoring nilai 1 sampai 10, saya kira poin yang saya peroleh maksimal hanya nol koma. Posisi ini menunjukkan bahwa secara kualitatif saya gagal memanfaatkan puasa sebagai momentum untuk berbenah diri, saya gagal untuk menyulap puasa menjadi semacam anak tangga untuk naik ke level spiritual berikutnya. Alih-alih dapat mencapai derajat ketakwaan sebagaimana difirmankan Allah dalam al-Qur'an, atau memperoleh laylatul qadar, untuk menjadikan puasa lebih dari sekadar menahan diri dari lapar dan dahaga saja tampaknya saya tak mampu. Betapa bodohnya dan meruginya saya! Padahal saya masih ingat betul firman Allah dalam sebuah hadits qudsi yang mengatakan: "Semua amaliah anak Adam untuk diri mereka, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan menentukan ganjarannya." Firman ini sangat jelas mengisyaratkan puasa sebagai ibadah manusia yang istimewa di sisi Allah SWT. Sedemikian istimewanya sampai-sampai Allah menegaskan bahwa puasa untuk diri-Nya dan Dia sendiri yang menentukan ganjarannya.

Keistimewaan puasa di antaranya memang disebabkan oleh sifatnya yang amat mempribadi alias sangat privat bagi manusia yang menjalankannya. Karena sifatnya demikian maka kualitas dan sampai seberapa dalam seseorang mampu menyelami samudra hikmah puasa hanya Allah SWT saja yang mengetahuinya. Lantaran sifatnya yang amat sangat privat, puasa juga menjadi satu-satunya ibadah (mungkin) yang secara langsung menjadikan diri manusia --zohir dan bathinnya-- sebagai "zona pertempuran yang hebat namun hening" antara hati manusia yang cenderung hanief (ganderung kepada kebenaran) dengan hawa nafsu yang menyesatkan: Hati yang hanief membimbing lidah orang yang berpuasa agar tidak berkata bohong dan lebih banyak berzikir, namun hawa nafsu justru membujuk lidah agar terus berkata dusta dan mengumpat; Hati yang hanief menutup telinga orang yang berpuasa dari mendengar pembicaraan yang sia-sia, namun hawa nafsu justru membuka telinga agar nikmat mendengarkan pembicaraan sia-sia orang-orang fasik; Hati yang hanief memalingkan mata orang yang berpuasa dari pandangan yang tidak ma'ruf, namun hawa nafsu justru membelalakkan mata kepada pemandangan-pemandangan yang munkar; Hati yang hanief membimbing akal orang yang berpuasa agar selalu memikirkan ciptaan Allah dan memuji Dzat Allah, namun hawa nafsu justru mengajak akal untuk mengabaikan Allah dan bersekutu dengan para penentang-Nya.

Jujur saya akui, dalam pertempuran-pertempuran itu saya lebih sering kalah. Hawa nafsu selalu bisa menaklukkan kekuatan akal dan ruhani saya, padahal keduanya sudah saya siapkan secara maksimal agar menang berlaga melawan hawa nafsu. Tapi apa lacur, hawa nafsu terlalu kuat mengikat kaki dan tangan saya sehingga saya tak bisa bergerak untuk taqarrub kepada Allah. Hawa nafsu terlalu gesit mengecoh pikiran saya sehingga saya sering gagal bertafakur dan bertadzakkur. Hawa nafsu pun terlalu bertenaga membekap lidah, pendengaran dan penglihatan saya sehingga saya cenderung melakukan segala hal yang menimbulkan mudharat. Seorang teman pernah berseloroh, "Haji Irwan, hawa nafsu atau syeitan punya ilmu menggoda yang selalu satu level di atas kadar keimanan kita." Itu sebabnya mereka selalu bisa mengecoh kita.

Ya Allah...Betapa meruginya aku.
Padahal Kau telah janjikan derajat ketakwaan yang tinggi dan pengampunan dosa yang lalu dan akan datang bagi mereka yang berpuasa karena -Mu.
Ya Allah... Ampunilah kelemahan imanku dan kerapuhan tubuhku.
Dan, ampunilah ketidakmampuanku mengalahkan godaan nafsuku.

Ya Rasulullah junjunganku....Aku malu kepadamu.
Aku sungguh malu kepadamu karena kegagalanku menjadikan puasa lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga.
Padahal engkau sudah menunjukkan teladan yang baik dan nasihat yang mencerahkan tentang keutamaan puasa bagi orang-orang beriman.

Soalnya sekarang, apakah yang bisa diharapkan dari seorang yang kualitas ibadahnya maksimal hanya bernilai nol koma?

Sejujurnya saya jawab, tidak ada! Posisi nol koma adalah satu keadaan dimana seseorang sebetulnya tidak punya kekuatan intelektual dan energi spiritual yang cukup untuk menciptakan kebaikan-kebaikan di muka bumi, entah itu kebaikan yang bersifat personal maupun kebaikan yang bersifat komunal. Singkatnya, saat ini saya powerless secara lahir dan bathin! Tak berdaya-guna secara fisik-material maupun mental-spiritual! Sahabatku, saksikan olehmu bahwa saat ini saya berada dalam posisi itu, posisi orang yang gagal membangun konstruksi yang kuat untuk menciptakan kesalehan individual yang sangat diperlukan untuk membangun sebuah kesalehan yang bersifat struktural, gagal memenangkan pertempuran demi pertempuran melawan hawa nafsu sehingga secara keseluruhannya saya menjadi mahluk yang hina di hadapan Allah Yang Maha Agung.

Ya Allah... Aku berlindung kepada-Mu dari semua keadaan buruk ini, suatu keadaan yang terjadi karena lemahnya iman, sedikitnya pengetahuan dan gampangnya terkecoh oleh godaan syeitan yang terkutuk.

Nabi SAW, para sahabat yang terkemuka, dan juga para awliya' pada masanya tampil sebagai manusia-manusia unggul di muka bumi ini: Maqamnya mulia di sisi Allah dan terhormat di pandangan manusia; Karena lisan beliau-beliau, hati manusia menjadi terbimbing dan selalu mengingat Allah; Karena keteladan beliau-beliau, manusia menjadi tahu bagaimana melakukan yang ma'ruf dengan cara yang benar; Karena sikap welas asih beliau-beliau, manusia menjadi tahu bagaimana menciptakan relasi sosial yang seimbang di tengah masyarakat yang majemuk; Karena sikap kasih sayang beliau, mereka yang tergolong fakir miskin, dhuafa dan mustadh'afin tidak menjadi hina hidup di tengah mereka yang kaya dan berpunya; Karena kegigihan beliau, syiar Islam tersebar hampir ke seluruh penjuru dunia; Semua ini adalah bukti nyata bahwa kesalehan individual dan kesalehan yang bersifat komunal hanya bisa diwujudkan oleh mereka yang memiliki kualitas sempurna, bukan oleh manusia berkualitas nol koma seperti saya.

Itulah sebabnya pada jam-jam terakhir menjelang Hari Kemenangan ini hati saya masygul, bathin saya gelisah. Tergambar jelas di mata saya buruknya amaliah dan centang-perenangnya ibadah saya kepada Allah. Sedemikian buruknya sampai-sampai saya malu untuk bergembira besok pagi ketika takbir berkumandang di menara-menara masjid untuk mengagungkan nama-Nya.

"Ya Allah... Ampunilah segala dosa dan kesalahanku
Dosa yang bisa meruntuhkan penjagaan
Dosa yang bisa mendatangkan bencana
Dosa yang bisa menurunkan siksa
Dosa yang bisa menahan doa-doa
Dosa yang bisa merusak karunia
Dan, dosa yang bisa memutuskan harapan

Ya Allah... sampaikanlah usiaku pada ramadhan tahun berikutnya
Agar Aku bisa memperbaiki amaliahku yang buruk pada ramadhan tahun ini
Agar aku bisa menyempurnakan ibadahku yang rusak pada ramadhan tahun ini

Ya Allah... kasihanilah aku yang hartanya hanya harapan dan senjatanya hanya tangisan. Kabulkanlah doa-doaku"

Catatan BA

Read More......

Karena Burung Hud-Hud, Maka Selamatlah Si Tambun... Bagikan



"Singkat cerita, tiga-puluh ekor burung yang dipimpin burung Hud-hud tiba dengan selamat di tujuannya, Gunung Kaf. Di gunung itu berdiri istana megah sang Raja yang paling dirindukan dan dicintai: Raja Simurgh," kata seorang penceramah menutup tausiyahnya malam itu.

Jam di dinding masjid menunjukkan pukul 9 malam. Seorang demi seorang jamaah sholat taraweh mulai meninggalkan masjid. Namun si anak muda berbadan tambun itu tak hendak beringsut dari duduknya. Seperti hari sebelumnya, dia terlihat asyik bersandar di dinding masjid yang dingin sambil meneguk air mineral langsung dari botolnya. Dia masih teringat dengan keseluruhan cerita fabel yang disampaikan oleh sang penceramah tadi, cerita yang secara keseluruhannya dikutip dari kitab Manthiq at-Thair karya sufi besar Syekh Fariduddin Aththar. Cerita itu sangat menyentuh hatinya karena di balik cerita yang diperankan oleh burung Hud-hud, burung Nuri, burung Merak dan burung Bul-bul terkandung pesan spiritual yang sangat tinggi.

"Hmmm...saya baru mengerti, jadi tibanya rombongan tiga-puluh ekor burung itu di istana Gunung Kaf adalah akhir dari sebuah perjalanan panjang ratusan burung yang ingin menjumpai Raja Simurgh di istananya," gumam anak muda itu dalam hati.

Dikisahkan sebelumnya, dalam perjalanan ribuan mil itu rombongan yang dipimpin burung Hud-hud telah melewati tujuh kota Cinta yang masing-masingnya dipisahkan oleh lembah yang dalam, jurang yang terjal, pegunungan yang menjulang dan samudera serta gurun pasir yang maha luas. Perjalanan itu makin terasa berat dan penuh bahaya karena mereka juga harus menembus cuaca yang sesekali dingin membeku dan pada kali yang lain terasa sangat panas menyengat. Sebagai pemimpin rombongan, burung Hud-hud merasa bersyukur karena sebelum perjalanan dimulai dirinya sudah mengingatkan betapa berat dan berbahayanya perjalanan tersebut. Hud-hud pun sudah menceritakan bahwa selama dalam perjalanan mereka juga akan menemukan banyak tempat yang indah dan mempesona. Itulah sebabnya Hud-hud merasa tidak dibebani rasa bersalah manakala dalam perjalanan tersebut ada sebagian burung yang mati karena kepanasan atau kedinginan; sebagian lagi tenggelam di laut; sebagian lainnya kelelahan dan tidak sanggup melanjutkan perjalanan; sebagian lainnya memang tidak ingin meneruskan perjalanan karena merasa terpesona dengan keindahan negeri-negeri yang mereka lalui dan mereka putuskan untuk tinggal disana; dan sebagiannya lagi tersesat dalam perjalanan.

Pada saat pikiran anak muda berbadan tambun itu sedang mengingat-ingat kembali isi ceramah yang barusan didengarnya, bapak tua yang kemarin malam dijumpainya di masjid itu menghampirinya. "Malam ini adik mau i'tikaf lagi disini?" tanya bapak tua itu seraya duduk di sebelahnya. Dengan jawaban sekenanya si anak muda menjawab, "Insya Allah pak." Sambil mengurut-urut kakinya, si bapak itu menggerutu, "Aneh rasanya mendengar ceramah agama tapi topiknya tentang burung-burung; burung Hud-hudlah, burung Meraklah, dan burung apa lagi itu. Kayak gak ada kisah lain yang lebih berbobot untuk diceritakan." Lantaran merasa tidak wajib menimpali gerutu si bapak, anak muda berbadan tambun itu hanya tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Berbeda pendapat dengan si bapak tua yang menggerutu tadi, si anak muda berbadan tambun justru merasa tertarik dengan pesan yang tersembunyi di balik kisah perjalanan burung Hud-hud dan kawan-kawannya ke istana Raja Simurgh. Paling tidak ada dua pesan penting yang bisa dipetiknya: Pertama, perjalanan menuju Tuhan adalah perjuangan yang sangat berat bagi mereka yang malas, sangat berbahaya bagi mereka yang sembrono dan tak berilmu, sangat melelahkan bagi mereka yang lemah, dan sarat dengan godaan bagi mereka yang imannya rapuh. Burung Hud-hud telah menjadi saksi ketika burung-burung yang malas, sembrono dan tak berilmu serta lemah gagal sampai di tujuannya dan mati sia-sia di tengah perjalanan. Sementara yang imannya rapuh mudah tergoda oleh keindahan negeri-negeri yang dilaluinya sehingga membuat mereka abai dengan tujuannya semula;

Kedua, perjalanan menuju Tuhan sejatinya dapat dimulai dari ikhtiar mengenali diri sendiri sebagaimana sabda Nabi SAW, "Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya." Pesan ini disampaikan secara elok oleh Syekh Fariduddin Aththar pada bagian penutup kisah burung Hud-hud. Dikisahkan begini: ketika pada akhirnya rombongan burung Hud-hud tiba di istana Raja Simurgh dan masuk ke bagian dalam istana yang megah itu, alih-alih bertemu dengan Raja Simurgh, yang justru mereka temui di dalam istana adalah diri mereka sendiri, citra diri mereka sendiri, yang terpantul dari cermin yang menutup hampir seluruh dinding istana.

"Iya..iya..saya faham sekarang! Saya faham!" gumam si anak muda itu, kali ini sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tapi sekonyong-konyong dirinya mulai ragu untuk melanjutkan niatnya beri'tikaf malam itu. Pasalnya, dia merasa i'tikaf yang dilakukannya pada malam-malam bulan Ramadhan tidak didasari oleh niat yang benar, niat yang sejatinya harus dijadikan motif satu-satunya dalam semua peribadatan dalam Islam. Contohnya i'tikaf yang dilakukannya dua malam lalu di masjid ini, yang diniatkan semata-mata agar memperoleh laylatul qadar. Padahal mestinya i'tikaf itu dilakukan semata-mata karena Allah SWT, bukan karena sesuatu selain Dia atau mengharapkan sesuatu selain Dia --meskipun sesuatu itu adalah laylatul qadar yang digambarkan dalam al-Qur'an sebagai khoyrun min 'alfi sahrin (malam yang lebih baik daripada 1000 bulan).

"Astaghfirullah...tampaknya saya sudah melakukan sebuah kesalahan besar," katanya dalam hati. Seketika si anak muda berbadan tambun itu dirundung kesedihan tiada tara karena menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya. Dia merasa dirinya tak ubahnya seperti burung-burung yang mengabaikan tujuan utamanya bertemu dengan Raja Simurgh lantaran terpesona kepada keindahan negeri-negeri yang dilaluinya dan memutuskan untuk menetap disana. Dia merasa telah diperdayai oleh nafsunya sendiri sehingga orientasinya kepada Allah tergantikan oleh orientasi kepada sesuatu selain Allah. "Harusnya keramat laylatul qadar tidak membuat saya berpaling dari Allah. Bodoh sekali saya! Kenapa saya harus beribadat untuk memperoleh sesuatu yang tak bernilai apapun bila dibandingkan dengan Dzat Allah? Bodoh sekali saya!" sesalnya.

Sebodoh-bodohnya burung adalah mereka yang telah menukar kesempatannya bertemu Raja Simurgh di istananya yang maha megah di Gunung Kaf dengan bermukim di sebuah tempat yang keindahannya ribuan kali lebih buruk dibandingkan taman istana Raja Simurgh.

Malam sudah semakin larut. Si anak muda berbadan tambun itu terlihat sedang bersiap untuk melakukan i'tikaf. Namun, jauh di dalam hatinya dia bertekad tidak mau melakukan kebodohan layaknya burung-burung yang telah menukar kesempatan bertemu Raja Simurgh di istananya yang maha megah dengan bermukim di sebuah negeri yang keindahannya pasti tidak sebanding dengan keindahan taman istana Raja Simurgh.

Subhanallah... Malam itu, di antara burung-burung yang tidak beruntung, si anak muda berbadan tambun itu beri'tikaf: berdzikir dan mendirikan qiyamul-lail layaknya burung Hud-hud yang diberkati dan selalu dalam bimbingan Allah Azza wa Jalla. Tatkala kedua tangan si anak muda berbadan tambun itu bertakbiratul ihram, kalbunya hadir di hadapan Allah Yang Maha Kudus, obsesinya terhadap laylatul qadar menguap laksana asap yang ditiup angin. Dia berdiri dalam suatu dimensi ruang dan waktu dimana di dalamnya hanya ada dirinya yg berbadan tambun dan Allah, Dzat Yang Maha Indah dan Mempesona.

"Ilahi, Anta maksudiy wa ridhoka mathlubiy, ahabbataka wa ma'rifataka" (Ilahi, Engkaulah tujuan dari semua peribadatanku dan hanya ridho-Mu yang kukehendaki. Anugerahkanlah kepadaku rasa cinta hanya kepada-Mu dan jalan menuju singgasana-Mu)

Sebuah catatan Dari Bang Awing

Read More......

Mbok Salamah, Aku Iri....




Kalau bukan karena ingin memperoleh Kebajikan yang Allah janjikan, hal yang musykil Mbok Salamah rela menjual satu-satunya kain batik kesayangannya.

"Kain ini pemberian almarhum kakekmu 20 tahun lalu sebelum dia meninggal dunia. Besok kain ini mau si mbok jual ke pasar," ujar Mbok Salamah kepada tiga orang cucunya yang masih kecil-kecil pada suatu malam. "Kenapa dijual mbok?" tanya salah seorang cucunya. "Itukan satu-satunya kain batik yang bagus yang mbok punya," sergah yang satunya lagi.

Alih-alih menjawab celotehan cucunya, Mbok Salamah yang sejak tadi mengelus-elus kain batik itu --dan sesekali menciumnya-- malah tersenyum. Tangannya yang sudah keriput mulai membungkus kain batik kesayangannya itu dengan kertas koran bekas. Masih terngiang-ngiang di telinganya si mbok, firman Allah yang dibacakan oleh penceramah waktu rehat sholat taraweh tadi di masjid: Lan tanalul-birro hatta tunfiquw mimma tuhibbun (Kamu belum memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfaqkan sebagian dari harta yang paling kamu cintai). "Moga-moga Gusti Allah senang dengan apa yang besok si mbok lakukan," harapnya dalam hati.

Matahari belum terlalu tinggi ketika Mbok Salamah meninggalkan gubuknya yang reot sambil menarik gerobak. Gerobak? Iya, gerobak! Mbok Salamah sehari-hari memang bekerja sebagai pemulung, suatu pekerjaan yang digelutinya sejak mendiang suaminya meninggal dunia dan putri semata-wayangnya mati ditabrak kereta dan meninggalkan tiga orang anak yang masih kecil-kecil. Puasa tak menghalangi Mbok Salamah untuk terus menyusuri jalan-jalan kampung yang sempit untuk mencari dan mengumpulkan barang-barang bekas yang kira-kira masih laku dijual kepada tukang loak.

Matahari sudah hampir di atas kepala ketika Mbok Salamah memarkir gerobaknya di sudut pasar Jatinegara. Dengan wajah sumringah, bungkusan koran berisi kain batik kesayangannya dikepit di ketiaknya. Mbok Salamah tenggelam dalam hiruk-pikuk pasar di tengah hari bolong. Kain batik kesayangannya yang merupakan satu-satunya kenangan yang masih tersisa dari kehidupan masa lalunya dengan suaminya telah berpindah tangan. Menjelang ashar Mbok Salamah sudah tiba kembali di gubuknya. Uang hasil penjualan kain sudah habis dibelikan beberapa kilogram kacang hijau, kelapa dan gula merah. Ditemani oleh ketiga orang cucunya, Mbok Salamah mencuci kacang hijau, memarut kelapa dan memasaknya hingga menjadi bubur.

Lan tanalul-birro hatta tunfiquw mimma tuhibbun... Firman Allah itu kembali terngiang-ngiang di telinga Mbok Salamah. Sekonyong-konyong wajah Mbok Salamah berseri-seri. Air mukanya memantulkan kebahagiaan dan rasa suka-cita yang membuncah hebat di hatinya. Mbok Salamah pantas berbahagia dan bersuka-cita karena dirinya baru saja memulai langkah awal menuju Kebajikan yang dijanjikan oleh Allah SWT.

Bedug magrib sudah hampir tiba. Bubur kacang hijau yang dimasak Mbok Salamah sudah tersaji di dalam mangkuk-mangkuk kecil yang dijejer rapih di hadapan jamaah yang ingin berbuka puasa di masjid yang terletak tak jauh dari gubuknya. "Wahai Gusti Allah... panjangkan usiaku, paling tidak sampai aku menyaksikan rezekiku yang sedikit berubah menjadi kebajikan yang besar di sisi-Mu," pinta si Mbok Salamah dalam hati.

Tak lama berselang azan berkumandang. Bubur kacang hijau yang dibeli dari hasil penjualan kain batik kesayangan Mbok Salamah disantap habis sebagai takjil oleh para jamaah yang kebanyakannya adalah orang-orang dhuafa' dan fakir miskin yang tinggal di sekitar masjid. Si mbok tersenyum penuh rasa syukur menyaksikan bubur kacang hijau pemberiannya telah menjadi bagian dari rezeki yang dinikmati oleh orang lain hari itu. "Alhamdulillah...Alhamdulillah Ya Allah," puji si mbok, kali ini dengan suara nyaris tersengal lantaran haru. Si mbok bersyukur, bahkan sangat bersyukur karena Allah telah menguatkan hatinya sehingga mampu mengubah rezeki miliknya yang sedikit menjadi Kebajikan yang tak terkira nilainya.

Subhanallah.... Mbok Salamah, aku iri...

Read More......

YA RASUL, KUYAKIN KAU HADIR


Tulisan ini Adalah Karya Irwan Setiawan atau kami lebih kenal dengan panggilan Bang Awing Sosok senior yang saya kenal di HMI, sangat sederhana tetapi tdklah sederhana dalam berpikir dan bertindak. Tulisan ini sangat menarik untuk kita baca bahkan dengan muda mengiring kita untuk masuk dalam bagian alur tulisan ini..Sangat Bermanfaat buat anak muda...selamat membaca
Hari ini jam 14:21 Diunggah melalui Facebook Seluler

Anak muda itu tiba2 tersenyum sendiri. Badannya yang tambun disandarkan ke dinding masjid. Sejurus kemudian senyumnya kembali tersungging. Kali ini matanya ikut menerawang, entah kemana dan ke waktu kapan. jam sudah menunjukkan waktu tengah malam. Suara orang membaca Al-Qur'an terdengar disana-sini dengan nada rendah tinggi, bahkan ada yg seperti suara berbisik. Sementara puluhan orang lainnya khusyu' melaksanakan sholat malam. Langit-langit mesjid penuh dengan pujian dan asma Allah.
Mesjid memang selalu ramai pada 10 hari terakhir bulan ramadhan. Pada waktu-waktu seperti itu mesjid sekonyong-konyong menjadi medan magnet yang menarik energi spiritualitas manusia untuk kembali ke titik nadirnya sebagai hamba Tuhan yang fitri, sebagai abid. Ada semacam kegembiraan tatkala momentum ramadhan bisa menggugah kesadaran fitri manusia untuk kembali ke maqam asalnya sebagai hamba Tuhan yang taat, yang sebagiannya termanifes dalam kegairahan menjalankan ibadah puasa dan menghiasi malam-malamnya dengan taraweh, tadarus, berdzikir dan beri'tikaf di mesjid. Tapi ada juga rasa masygul tatkala menyadari bahwa semua itu akan hilang seiring dengan usainya ramadhan. Entah kemana perginya mahluk-mahluk yang sangat spiritualis pada waktu ramadhan ketika bulan berganti menjadi syawal, rabi'ul awal, rajab dan seterusnya?
Apa yang terjadi dengan anak muda yang senyum-senyum tadi? Dia sekarang sudah rebah di lantai mesjid yang dingin. Sepertinya badannya yang tambun tak membuatnya nyaman bersandar terlalu lama di dinding. Matanya terlihat sesekali terpejam dan bibirnya mulai menggamit qasidah yang memuji kebesaran Allah dan Rasul Kekasih Allah, Muhammad SAW. Seorang tua yang kebetulan sedang berdzikir di sebelahnya tiba-tiba bertanya, "Dik, kamu sudah sholat malam?" Si anak muda menjawab, "belum pak, insya Allah nanti saya sholat." Si anak muda melanjutkan lamunannya sambil sesekali berbisik: "Ya Rasulullah... Salamun alaika". Tak lama berselang, mata si anak muda basah. Satu dua butir air mata keluar dari kelopak matanya, membasahi pipi. Kalimat "Ya Rasulullah, salamun alaika" semakin sering dilafalkan. Imajinasinya sekonyong-konyong mengajaknya melakukan sebuah perjalanan spiritual ke makam Rasulullah SAW di mesjid Nabawi, Madinah al-Munawarah.
Sekarang anak muda itu berdiri persis di depan makam Nabi Yang Suci. Hanya pagar besi yang membatasi fisiknya dengan makam Kekasih Allah itu. Energi spiritualnya sontak membuncah, diamuk oleh semacam gelombang cinta yang maha dahsyat. Tak satupun kata yang mampu diucapkan, karena wilayah dimana anak muda itu berada sudah berubah menjadi domain yang tak membutuhkan kata-kata --karena sejatinya kata-kata tak mampu lagi melukiskan apa yang dirasakan oleh hati, oleh jiwa. Mata si anak muda semakin basah dan sembab. Tapi kali ini bukan basah karena air mata, melainkan air kerinduan dan kecintaan kepada Nabi Suci yang Allah gambarkan sebagai "sebaik-baiknya teladan bagi umat manusia sepanjang jaman".
Perjalanan spiritual yang sangat mengguncangkan jiwa itu baru berhenti tatkala si orang tua yang sedang berdzikir tadi tiba-tiba menepuk lengan si anak muda menawarkan segelas aqua. Si anak muda membuka matanya seraya bangkit dan duduk. Pikirannya masih berada di mesjid Nabawi meski mulutnya sudah mulai sibuk menyeruput aqua. Kerinduannya terhadap Rasulullah masih menggoda batinnya. Trance sesaat yang dialaminya membuat rasa rindunya semakin membakar jiwa. "Satu ketika saya harus kesana, ke makam Nabi!" gumamnya dalam hati.
"Alkisah, Rasulullah sering mengisi malam-malamnya dengan qiyamul lail dan mengisi waktu siangnya dengan berkumpul bersama orang-orang dhuafa' dan fakir miskin. Itulah sebabnya Beliau sangat dicintai oleh Allah SWT," kata si orang tua itu membuka pembicaraan. "Saking besarnya cinta Rasulullah kepada orang-orang miskin, beliau sering mengatakan, carilah aku di antara orang-orang miskin," tambahnya. Si anak muda terkesan dengan apa yang baru saja didengarnya. Waktu sahur sudah hampir tiba. Sang anak muda bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke arah tempat berwudhu. Setelah bercuci-muka, dia pergi ke pelataran mesjid. Mesin motor dinyalakan, suaranya membelah malam sunyi. Tak jauh dari mesjid, dia berhenti di sebuah warung nasi dan memesan beberapa bungkus nasi. Setelah itu perjalanan dilanjutkan. Rupanya si anak muda mengarah pulang ke rumahnya di sebuah kawasan kumuh di Jakarta. Setibanya di rumah, dia tak langsung masuk, melainkan pergi ke belakang rumahnya. Pintu sebuah rumah yang amat sangat sederhana diketuknya. Penghuni rumah yang ternyata seorang ibu-ibu tua renta membukakan pintu.
Malam itu si anak muda bersahur dengan seorang ibu yang tua renta, yang ditemani oleh tiga orang cucunya yang masih kecil. Di gubuk orang yang miskin papa itulah si anak muda menghabiskan sisa malam sampai menjelang subuh. Tapi hatinya dipenuhi rasa gembira dan bahagia yang tiada terkira, melebihi kegembiraan si empunya rumah yang malam itu bisa makan sahur gratis. "Ya Rasul... Aku yakin, haqqul yakin, engkau pasti hadir di antara kami saat ini. Bagaimana mungkin aku meragukannya setelah engkau berkata, 'carilah aku, carilah aku, di antara orang-orang dhua'fa dan fakir miskin'," gumam si anak muda itu dalam hati.

Read More......

CATATAN BUAT ARMIN MUSTAMIN TOPUTIRI


Alhamdulillah Pelantikan Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Telah Selesai dan berlansung secara hikmat melalui rapat paripurna istimewa DPRD Provinsi Selawesi Selatan, dihadiri oleh seluruh pejabat di daerah ini dan disiarkan secara langsung oleh stasiun TV lokal Rakyat Sulawesi Selatan pun menyaksikan melalui layar kaca termasuk saya, terlihat dari layar televisi para undangan serta kerabat anggota DPRD terpilih begitu heroik menyaksikan secara langsung pengambilan sumpah para anggota DPRD terpilih, Saya pun Menarik segelas teh manis yang tak jauh dari tempat saya duduk dalam kamar tidurku tempat saya menyaksikan acara tersebut , Matakun tak berkedip keperhatikan secara seksama wajah – wajah legislator terpilih yang sekali kali nampak dilayar televisi, berbagai macam ekspresi mulai dari senyuman yang mengambarkan kegembiraan bahkan adapula legislator yang serius mendengarkan pidato Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dan Pidato Menteri Dalam Negeri yang dibacakan oleh Bapak Gubernur Sulawesi Selatan,

Saat kamera televisi menayangkan gambar legislator terpilih, saya pun tersenyum bangga dan terharu melihat sosok anak muda yang duduk dalam barisan kursi calon terpilih meskipun duduknya agak disudut bahkan dengan nampak kursinya tidak sama dengan kursi calon lain tetapi beliaupun tetap tersenyum dan tidak menjadikan masalah, Spontan sebuah nama tersebut dari mulutku Kak ARMIN, Alhamdulilah akhirnya terpilih juga sebagai wakil rakyat, Beliau Adalah ARMIN MUSTAMIN TOPUTIRI Sarjana Hukum, Sosok senior yang kukenal begitu idealis, mandiri dalam membangun ide dan gagasanya, Senior yang banyak mendidik dan mengayomi yuniornya di beberapa organisasi (HMI –KNPI), sosok yang senantiasa menjadi motivator bagi kami, Beliau selalu merasa gelisah akan situasi politik yang tidak berpihak kepada anak muda dan rakyat kecil,

Sekitara Jam 13.00 Telephon gengamkupun berdering , ternyata ada pesan pendek yang masuk (SMS) ternyata SMS dari Kak ARMIN, Mengundang untuk bersantap siang dirumahnya sebagai bentuk syukuran atas pelantikan tersebut, serta beberapa SMS dan telephon dari beberapa sahabat saya dari HMI dan KNPI serta Partai Golkar Mengajak sayapun untuk ketempat beliau, Hitung – Hitung yah sekalian silaturahmi maklum masih suasana idil Fitri, Saya Pun bergegas ke kediaman beliau di minasa upa Makassar, disana sudah banyak kolega, sahabat serta kerabat Bung Armin yang berdatangan, termasuk Walikota Makassar yang juga Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan hadir dalam acara tersebut, Acara tersebut penuh keakraban, canda dan tawa.. Spontan ada yang berteriak dalam dialeg makassar “ IYO TAWWA ANGGOTA DPRMI ARMIN” Kami pun ikut ketawa “ MANNA MAMO LIMA BELAS TAHUN BARU TERPILIH “ Subohannallah Kalimat itu sangat sederhana tetapi itu menandakan bahwa Bung ARMIN telah menjalani sebuah proses yang begitu panjang dan melelahkan menuju Kursi DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Yang kami kenal untuk sosok Bung Armin adalah Politisi Muda yang yang lahir dari rahim partai golkar dengan memulai proses dari nol tanpa ada bantuan politik dari siapa pun, belaiu bukanlah seorang anak pejabat apalagi ningrat, Bung Armin hanya bermodalkan semangat untuk menjadi orang besar dengan mengandalkan kemandirian ide dan gagasan dalam berproses di golkar, Almarhum Ayah Bung Armin hanyalah senior Golkar atau pengurus kecamatan di daerah beliau dilahirkan, yang konon kabarnya sampai ajalnya pun tiba almarhum tidaklah pernah memiliki keinginan menjadi anggota DPRD, Selamat Bung ARMIN semoga Idealisme dan Kemandirian yang kita miliki tetap menjadi roh dalam setiap teriakan di kantor dewan yang terhormat,

Saya sebagai Adik dan Sahabat Bung Armin Mau meningatkan dengan Kalimat dibawah ini :

Ke-Khalifah-an : Dan (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat “ Aku Hendak Menjadikan Khalifa di muka Bumi “ (Q.S.AL-Baqarah/2:30) Ayat ini menjelaskan Kepemimpinan adalah kesadaran akan peran dan fungsinya sebagai khalifa atau wakil Allah. Ini berarti ketika pemimpin bekerja menjalankan amanahnya melayani dan membenahi masyarakat disertai visi dan misi Ke-Illahiyahan (Ketuhanan) dalam bentuk berbagai macam kegiatan dalam rangka membentuk masyarakat muslim yang cerdas dan intelektual , Dengan Demikian ia akan memiliki legitimasi kepemimpinan yang sangat kuat dalam menjelaskan konsep – konsep islam dan solusi untuk perbaikan di tengan masyarakat yang lebih baik sehingga membuat keunggulan itu semakin mendapatkan pengakuan dari khalayak umum sebagaimana para malaikat memberikan pengakuan kepada nabi Adam AS ( QS.Al Baqarah/2 : 30 – 34)

Ke-imam-an : …..dan jadikanlah kami pemimpin (imam) bagi orang – orang yang bertaqwa (Q.S AL-Furqon/25: 74) disini tersirat bahwa Allah Membuka kesempatan seluas luasnya bagi hambanya untuk menjadi pemimpin dan juga mengisyaratkan predikat taqwa yang disandang dan dimiliki serta rasa tanggungjawab yang tinggi. Seorang pemimpin hendaknya lebih memperhatikan fakir miskin yang termarjinalisasi sehingga dapat menciptakan masyarakat yang adil dan makmur di sertai nilai – nilai islam , Kriteria diatas adalah layak dimiliki oleh seorang pemimpin kelak. Akan sangat mustahil jika seorang pemimpin yang tidak memiliki visi – misi yang tajam dapat memberikan solusi menyelesaikan masalah sosial, ekonomi dan budaya hingga dunia pendidikan di daerah ini.

Olehnya pemimpin yang berperan sebagai imam haruslah menjadi panutan masyarakat yang dipimpin sebagaimana nabi Ibrahim AS telah menjadi tauladan dalam hal keta’atan,kehanifaan,Ke-Taihidan dan ke-mulian akhlaknya mensyukuri nikmat Allah SWT…….

Wallahu a’lam Bish –showwab……

Read More......

KETUA BESAR


Kalimat KETUA BESAR kerap kali saya dengar ketika saya mulai aktif bergabung di partai Golkar Sulawesi Selatan , Waktu itu Melalui Bantuan Senior saya di HMI Mengajak saya untuk berkiprah di partai golkar melalui Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG), Sekali kali terdengar ucapan dari para sahabat saya di AMPG "KETUA BESAR " datang, Manai "KETUA BESAR" Ternyata yang dimaksud adalah Almarhum DR Anas Genda Ketua Harian AMPG Pada Waktu itu, Hari demi hari saya perhatikan kenapa beliau akrab di sapa dengan Panggilan "KETUA BESAR" mulai elit partai sampai pecahan botol seperti saya ikut menyapa dengan panggilan itu, Beliau orangnya sangat sederhana, Memiliki karakter yang kuat bahkan dalam beberapa Forum beliau adalah VOKALIS Partai Golkar, Beliau sudah Pergi Meninggalkan kita maka kami pun sangat terpukul dan merasa kehilangan, tidak ada lagi Sosok KETUA BESAR yang kami banggakan...Semoga Allah SWT senantiasa menerimanya ...

*******

Semakin lama semakin tidak terdengar lagi panggilan itu " KETUA BESAR " , lalu saya balik ke Jakarta pasca Pemilu 2009 guna mengejar mimpi - mimpiku yang belum terwujud, Kujalani lah hari - hariku di Ibu Kota dengan tetap kembali bergaul dengan komunitas anak muda yaitu DPP KNPI, termasuk berintraksi dengan senior senior dari partai Golkar , Aktivitas inilah yang kemudian membuat aku akrab dengan sala seorang senior Partai Golkar yang kenetulan juga beliau aktif sebagai Wakil Ketua DPP KNPI orangnya sangat sederhana, senantiasa memberikan motivasi hidup buat kita semua, enerjik, dan penuh pengertian bahkan seringkali menjadi jembatan bagi para sahabat KNPI dalamberbagai perseolan termasuk perseolan hati, Senyuman yang khas nya membuat beliau tetap kelihatan muda, saya cukup kangum dengan keberadaan beliau,

******

Suatu ketika para sahabat selepas buka puasa dan sholat magrib di daerah kuningan, secara tidak langsung dan spontan saya bertiriak menyapanya dengan sebutan " KETUA BESAR ", spontan para sahabat ketawa mendengar kalimat saya, Saya pun sadar dengan ucapan itu menyatakan Abang malam ini kita nobatkan sebagai " KETUA BESAR " Sebuah Harapan dari saya bahwa KETUA BESAR (Almarum Anas Genda) Telah pergi tetapi semangat nya tetap ada pada kami sebagai generasi nya , dan bukan tidak mungkin Orang yang baru kami nobatkan sebagai " KETUA BESAR " akan menjadi spirit tersendiri dalam menjalani hari - hariku di jakarta dalam bertarung membangun ide dan gagasan, Selamat Datang KETUA BESAR....wallahu walam...

Read More......

Sukri-Padasi Bersaing untuk Didukung PAN




Harian Seputar Indonesia Sulawesi Selatan
(www.seputar-indonesia.com)
Tuesday, 25 August 2009

MAKASSAR(SI) – Persaingan antara Bupati Bulukumba Sukri Sappewali dan Wakil Bupati Padasi menjelang Pilkada 23 Juni 2010 mendatang,mulai terlihat terang-terangan.

Dua incumbent itu dipastikan “bercerai” pada periode 2010–2015. Penyebabnya, baik Sukri maupun Padasi, menyatakan siap maju memperebutkan posisi bupati. Bahkan, saat ini keduanya terlibat persaingan mengendarai Partai Amanat Nasional (PAN) setelah ikut mendaftar.

Ketua DPD PAN Bulukumba Edy Manaf tidak menampik persaingan dua bakal kandidat tersebut. Sukri dan Padasi dianggap berpeluang sama diusung nanti, setelah melalui berbagai mekanisme di internal partai, termasuk lewat survei.

“Memang keduanya telah mendaftar bersama dua bakal calon lainnya, yakni Syukur (pengusaha) dan Gani Firman (birokrat). Namun, sampai saat ini kami belum menentukan usungan karena harus melihat hasil survei dulu sebelum ditetapkan DPW,” ungkap Edy kepada SI kemarin.

Dia menambahkan, peluang mengusung dua incumbent tersebut sangat terbuka bila nanti berdasarkan hasil survei, popularitas, dan elektabilitasnya sangat signifikan.

Hanya, dia tidak bisa memprediksi siapa terkuat antara Sukri dan Padasi karena masing- masing dianggap memiliki kelebihan dan kekurangan. Selain bersaing di PAN, Sukri dan Padasi juga dikabarkan terus melakukan penjajakan komunikasi untuk mengendarai partai peraih suara terbanyak di Kabupaten Bulukumba, yakni Partai Golkar. Apalagi,Ketua DPD II Golkar Muttamar Mattotorang telah memberikan sinyal tidak akan maju.

Pengurus Bappilu DPD II Partai Golkar Bulukumba Risman Pasigai menjelaskan, peluang Sukri dan Padasi sangat terbuka diusung partainya. Kendati demikian, pihaknya tetap mendorong Muttamar berpasangan dengan salah satu dari dua kandidat incumbent tersebut.

“Mengenai posisi ketua kami (Muttamar) nanti dilihat realitas politik yang berkembang. Pastinya, kami tentu akan realistis.Kalau memang tidak memungkinkan di posisi 01, tentu tidak diusung untuk posisi itu. Tetapi, sampai saat ini kami belum menentukan siapa yang jadi diusung,” kata Risman yang juga Wakil Sekjend DPP KNPI versi Ahmad Doli Kurnia ini.

Mantan Presidium Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) ini menambahkan, DPD II Golkar Bulukumba masih menunggu petunjuk teknis dari DPD I Partai Golkar Sulsel mengenai mekanisme penentuan kandidat. Apakah tetap dilakukan konvensi atau melalui survei. (arif saleh)

Read More......

Bakal Cabup Berebut Partai Golkar


25/09/2009

Sejumlah bakal cabup di Bulukumba berebut Partai Golkar untuk dijadikan kendaraan politik pada pilkada 2010.Karena itu,pendaftaran di DPD II Partai Golkar Bulukumba,dimulai hari ini hingga 10 Oktober,diprediksi berlangsung ketat.

Sejumlah bakal calon yang menguat memenangkan perhelatan politik lima tahunan tersebut, dikabarkan akan mendaftarkan diri untuk berebut diusung oleh partai peraih suara terbanyak di Bulukumba ini, saat pemilu legislatif lalu. Juru Bicara Tim Pilkada Golkar Bulukumba Risman Pasigai menyatakan, hingga kemarin,beberapa bakal calon sudah menyampaikan kesiapannya secara lisan mendaftarkan diri. Diantaranya, Bupati Pohuwatu, Gorontalo, Zainuddin, Ketua DPD II Golkar, Muttamar Mattotorang,Ketua PSI, Kahar Muslim,dan Isradi Zainal.

Selain itu, Bupati Bulukumba Andi Sukri Sappewali, dan Wakil Bupati Padasi juga dikabarkan akan mendaftar dalam waktu dekat. Apalagi, penentuan siapa usungan Partai Golkar, tidak lagi melalui konvensi, melainkan hasil survei salah satu lembaga profesional yang dikontrak partai berlambang pohon beringin ini. ”Perlu kami sampaikan,bahwa pendaftaran Partai Golkar, terbuka bagi siapa saja yang berminat. Dan kami tidak memungut biaya pendaftaran, begitupun survei, karena semua ditanggung partai,” tandas Risman yang juga Wakil Ketua Umum DPP KNPI versi Ahmad Doli Kurnia,kemarin.

Risman menambahkan,partainya sengaja membebaskan pungutan kepada bakal calon, demi menghindari opini yang berkembang, kalau partai politik berorentasi materi. Sehingga pihaknya berharap, agar hasil yang diputuskan nantinya, sangat objektif dan bebas dari intervensi kepentingan pihak tertentu. ”Di samping itu, ini semua dilakukan agar mekanisme partai bisa berjalan secara normal, karena target Partai Golkar adalah menang, sehingga kami tidak mau gegabah dan gagal dalam pilkada nanti,”tandas Risman.

Terkait peluang kandidat yang mengincar Golkar,Risman mengaku, semua mempunyai peluang, asalkan mempunyai popularitas dan elektabilitas tinggi.Sebab, penentuan siapa yang diusung, tidak terlepas dari perolehan survei. Sementara itu, DPD II Golkar Kepulauan Selayar,menjadwalkan akan membuka pendaftaran bakal calon bupati,mulai 28 September hingga 15 Oktober mendatang. Setelah itu, dijaring dan disurvei seperti DPD II lainnya. ”Kami juga sudah membentuk tim penjaringan cabup dan cawabup, dan dikordinir Natsir Abdullah, mereka akan segera menjalankan dan menyiapkan teknis pendaftaran,”tambah Ketua DPD II Golkar Selayar, Ince Langke secara terpisah.

Selai dua daerah ini, delapan DPD II yang daerahnya menggelar pilkada, juga akan membuka pendaftaran selama 10 hari. Hanya saja, kepastian tanggalnya, masih menunggu rapat kordinasi lebih lanjut. (sindo)

Read More......

Pendaftaran Cabup Golkar di Bulukumba Gratis


Saturday, 26-09-2009

Makassar, Tribun - DPD Partai Golkar Bulukumba menyatakan siap menjadi pemenang di pilkada yang diagendakan pad 23 Juni 2010 mendatang.

Kesiapannya dibuktikan dengan terbentuknya kelompok kerja (pokja) pendaftaran calon bupati dan calon wakil bupati yang bertugas untuk menjaring nama-nama bakal calon yang secara resmi akan disurvei oleh lembaga survei yang telah ditunjuk Partai Golkar.

"Partai Golkar tidak memungut biaya pendaftaran maupun biaya survei kepada kandidat karena kita ingin profesional," Juru Bicara Tim 11 Partai Golkar Bulukumba Risman Pasigai, kepada Tribun, Jumat (25/9).

Ditambahkan, pendaftaran dimulai tanggal 25 September hingga 5 Oktober mendatang. bagi figur yang berminat berjuang bersama Partai Golkar dipersilahkan mendaftar pada sekretariat Partai Golkar.

Menurut Risman, biaya survei ditanggung oleh partai Golkar untuk menghindari opini yang berkembang jika partai politik berorientasi materi. Semua ini dilakukan agar mekanisme partai bisa berjalan normal.

"Target kami, tidak ingin gagal lagi pada pilkada nanti sehingga Partai Golkar tidak gegabah dalam mengambil keputusan," katanya.(opi)

Read More......