YA RASUL, KUYAKIN KAU HADIR


Tulisan ini Adalah Karya Irwan Setiawan atau kami lebih kenal dengan panggilan Bang Awing Sosok senior yang saya kenal di HMI, sangat sederhana tetapi tdklah sederhana dalam berpikir dan bertindak. Tulisan ini sangat menarik untuk kita baca bahkan dengan muda mengiring kita untuk masuk dalam bagian alur tulisan ini..Sangat Bermanfaat buat anak muda...selamat membaca
Hari ini jam 14:21 Diunggah melalui Facebook Seluler

Anak muda itu tiba2 tersenyum sendiri. Badannya yang tambun disandarkan ke dinding masjid. Sejurus kemudian senyumnya kembali tersungging. Kali ini matanya ikut menerawang, entah kemana dan ke waktu kapan. jam sudah menunjukkan waktu tengah malam. Suara orang membaca Al-Qur'an terdengar disana-sini dengan nada rendah tinggi, bahkan ada yg seperti suara berbisik. Sementara puluhan orang lainnya khusyu' melaksanakan sholat malam. Langit-langit mesjid penuh dengan pujian dan asma Allah.
Mesjid memang selalu ramai pada 10 hari terakhir bulan ramadhan. Pada waktu-waktu seperti itu mesjid sekonyong-konyong menjadi medan magnet yang menarik energi spiritualitas manusia untuk kembali ke titik nadirnya sebagai hamba Tuhan yang fitri, sebagai abid. Ada semacam kegembiraan tatkala momentum ramadhan bisa menggugah kesadaran fitri manusia untuk kembali ke maqam asalnya sebagai hamba Tuhan yang taat, yang sebagiannya termanifes dalam kegairahan menjalankan ibadah puasa dan menghiasi malam-malamnya dengan taraweh, tadarus, berdzikir dan beri'tikaf di mesjid. Tapi ada juga rasa masygul tatkala menyadari bahwa semua itu akan hilang seiring dengan usainya ramadhan. Entah kemana perginya mahluk-mahluk yang sangat spiritualis pada waktu ramadhan ketika bulan berganti menjadi syawal, rabi'ul awal, rajab dan seterusnya?
Apa yang terjadi dengan anak muda yang senyum-senyum tadi? Dia sekarang sudah rebah di lantai mesjid yang dingin. Sepertinya badannya yang tambun tak membuatnya nyaman bersandar terlalu lama di dinding. Matanya terlihat sesekali terpejam dan bibirnya mulai menggamit qasidah yang memuji kebesaran Allah dan Rasul Kekasih Allah, Muhammad SAW. Seorang tua yang kebetulan sedang berdzikir di sebelahnya tiba-tiba bertanya, "Dik, kamu sudah sholat malam?" Si anak muda menjawab, "belum pak, insya Allah nanti saya sholat." Si anak muda melanjutkan lamunannya sambil sesekali berbisik: "Ya Rasulullah... Salamun alaika". Tak lama berselang, mata si anak muda basah. Satu dua butir air mata keluar dari kelopak matanya, membasahi pipi. Kalimat "Ya Rasulullah, salamun alaika" semakin sering dilafalkan. Imajinasinya sekonyong-konyong mengajaknya melakukan sebuah perjalanan spiritual ke makam Rasulullah SAW di mesjid Nabawi, Madinah al-Munawarah.
Sekarang anak muda itu berdiri persis di depan makam Nabi Yang Suci. Hanya pagar besi yang membatasi fisiknya dengan makam Kekasih Allah itu. Energi spiritualnya sontak membuncah, diamuk oleh semacam gelombang cinta yang maha dahsyat. Tak satupun kata yang mampu diucapkan, karena wilayah dimana anak muda itu berada sudah berubah menjadi domain yang tak membutuhkan kata-kata --karena sejatinya kata-kata tak mampu lagi melukiskan apa yang dirasakan oleh hati, oleh jiwa. Mata si anak muda semakin basah dan sembab. Tapi kali ini bukan basah karena air mata, melainkan air kerinduan dan kecintaan kepada Nabi Suci yang Allah gambarkan sebagai "sebaik-baiknya teladan bagi umat manusia sepanjang jaman".
Perjalanan spiritual yang sangat mengguncangkan jiwa itu baru berhenti tatkala si orang tua yang sedang berdzikir tadi tiba-tiba menepuk lengan si anak muda menawarkan segelas aqua. Si anak muda membuka matanya seraya bangkit dan duduk. Pikirannya masih berada di mesjid Nabawi meski mulutnya sudah mulai sibuk menyeruput aqua. Kerinduannya terhadap Rasulullah masih menggoda batinnya. Trance sesaat yang dialaminya membuat rasa rindunya semakin membakar jiwa. "Satu ketika saya harus kesana, ke makam Nabi!" gumamnya dalam hati.
"Alkisah, Rasulullah sering mengisi malam-malamnya dengan qiyamul lail dan mengisi waktu siangnya dengan berkumpul bersama orang-orang dhuafa' dan fakir miskin. Itulah sebabnya Beliau sangat dicintai oleh Allah SWT," kata si orang tua itu membuka pembicaraan. "Saking besarnya cinta Rasulullah kepada orang-orang miskin, beliau sering mengatakan, carilah aku di antara orang-orang miskin," tambahnya. Si anak muda terkesan dengan apa yang baru saja didengarnya. Waktu sahur sudah hampir tiba. Sang anak muda bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke arah tempat berwudhu. Setelah bercuci-muka, dia pergi ke pelataran mesjid. Mesin motor dinyalakan, suaranya membelah malam sunyi. Tak jauh dari mesjid, dia berhenti di sebuah warung nasi dan memesan beberapa bungkus nasi. Setelah itu perjalanan dilanjutkan. Rupanya si anak muda mengarah pulang ke rumahnya di sebuah kawasan kumuh di Jakarta. Setibanya di rumah, dia tak langsung masuk, melainkan pergi ke belakang rumahnya. Pintu sebuah rumah yang amat sangat sederhana diketuknya. Penghuni rumah yang ternyata seorang ibu-ibu tua renta membukakan pintu.
Malam itu si anak muda bersahur dengan seorang ibu yang tua renta, yang ditemani oleh tiga orang cucunya yang masih kecil. Di gubuk orang yang miskin papa itulah si anak muda menghabiskan sisa malam sampai menjelang subuh. Tapi hatinya dipenuhi rasa gembira dan bahagia yang tiada terkira, melebihi kegembiraan si empunya rumah yang malam itu bisa makan sahur gratis. "Ya Rasul... Aku yakin, haqqul yakin, engkau pasti hadir di antara kami saat ini. Bagaimana mungkin aku meragukannya setelah engkau berkata, 'carilah aku, carilah aku, di antara orang-orang dhua'fa dan fakir miskin'," gumam si anak muda itu dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar